|
Gaya Desain Khas
Oriental
BUDAYA China mewarisi kekayaan yang melimpah hingga seantero dunia.
Arsitektur dan desain interiornya pun turut mendunia. Gaya desain
ini pun bisa diadopsi ke dalam hunian di Indonesia. Kebudayaan dari
dataran China meninggalkan jejak yang hingga kini masih dapat dijumpai
di belahan dunia mana pun. Tradisi yang dipegang kuat oleh bangsa
Tionghoa menampilkan sesuatu yang khas dan unik.
Budaya nenek moyang yang selalu terjaga bisa dilihat dengan masih
banyaknya bangunan khas Oriental di China, tak terkecuali di Indonesia.
"Arsitektur khas Oriental, yang notabene berasal dari dataran
China, pada dasarnya adalah arsitektur tradisional berornamen atau
berhias,"
Contohnya seperti hiasan pada dinding, pintu, dan jendela yang
didasarkan pada mitos dan kepercayaan bangsa Tionghoa. Ornamen yang
ada beragam, dari ornamen geometris, motif tanaman, hingga binatang.
"Kalau dari segi desain interior, gaya Oriental ditandai dengan
penggunaan material kayu,kertas pelapis dinding dan warna yang dominan
merah, cokelat tua atau emas," terang desainer interior Timothy
Iddo Malachi yang akrab disapa Timmy.
Gaya ukiran dalam interior khas Oriental biasanya berbentuk ukiran
seperti naga dan singa. Bunga lotus pun kerap digunakan sebagai
motif ukiran ataupun lukisan. Lantas, mengingat bangsa China melestarikan
budayanya secara kuat di mana pun mereka berada, arsitektur khas
Oriental juga tampak di Indonesia dari elemen-elemen tertentu. Contohnya,
atap khas China, warna-warna mencolok seperti merah, biru, dan kuning,
atau penggunaan patung naga sebagai wujud kepercayaan masih muncul
dalam rumah masyarakat Indonesia keturunan.

"Meskipun dalam penggabungan dua arsitektur berbeda ini (perpaduan
Indonesia dan China), biasanya karakter arsitektur Tionghoa yang
penuh warna dan hiasan menjadi berkurang, bahkan sebagian besar
atau keseluruhan hilang," Pendapat senada datang dari Timmy.
"Pengolahannya dalam desain interior, misalnya hanya pada
penerapan penggunaan warna, aksesori interior,mebel, dan panel divider."
Misalnya, warna-warna netral dipadu dengan warna- warna kuat.Warna
merah ada pada satu area dinding saja sebagai aksen. Atau warna
merah pada sarung bantal, karpet, atau kain sofa gorden.
"Gawangan atau kongliong juga sering digunakan sebagai penyambung
antarruang tanpa menggunakan pintu yang berbentuk bulat seperti
bulan purnama," ujar Timmy. Menurut Probo yang berdomisili
di Malang, material alami seperti batu-batuan, kayu, tanah, banyak
digunakan. Material biasanya ditampilkan ?'jujur'' dengan tidak
dicat. Misalnya,warna tanah liat untuk genting,warna kayu untuk
kolom kayu.
"Mengombinasikan gaya Oriental dengan unsur desain modern
malah akan menyenangkan," sarannya. "Tak perlu mengolah
seluruh ruangan. Fokuskan pada beberapa hal saja, yang lain dibiarkan
lebih sederhana dan modern agar lebih menonjolkan elemen-elemen
Oriental karena kekontrasannya,"
Anda dapat menyertakan elemen interior seperti lampu dengan desain
modern atau seperangkat kursi dan meja makan bergaya Ming. Tentu
saja lilin-lilin merah, hiasan dinding semacam baju cheongsam yang
digantung di dinding, keramik-keramik China, lonceng angin, atau
lampion. ''Tapi dipajang beberapa saja justru menarik perhatian
sehingga kita akan merasakan kesannya,"
"Anda juga dapat menyandingkan pernak-pernik aksesori Oriental
dengan aksesori bergaya etnis Jawa karena karakter hiasannya agak
mirip."
Dalam mendesain ruangan bernuansa China, langsung tebersit apa
harus menggunakan perhitungan fengsui? "Semuanya dikembalikan
pada penghuni rumah apakah perlu menggunakan fengsui atau tidak,"
Namun, akan lebih baik jika menggunakan perhitungan fengsui. Ini
akan menyebabkan tak hanya tampilannya yang Oriental, tapi juga
dalam penataan ruangnya. Namun, seiring modernisasi pola pikir masyarakat,
banyak yang tidak lagi menggunakan fengsui, secara sebagian bahkan
seluruh desain ruangannya.
"Tapi tak jarang, masyarakat pribumi menggunakan perhitungan
fengshui untuk menata ruang rumah. Hal ini menunjukkan pengaruh
arsitektur Oriental bagi masyarakat pribumi di Indonesia,"
gaya Oriental ini lebih abadi dan mudah diadaptasikan tanpa harus
terkesan kuno.
Di samping itu, saat ini banyak kain atau wallpaper bermotif bambu
atau bunga semacam lili, peoni, dan lotus yang memperkuat nuansa
Orientalnya. "Semuanya harus terlihat proporsional jangan sampai
terkesan berlebihan." Mengingat gaya hidup modern yang mementingkan
segi praktis, adaptasi dan modifikasi gaya khas Oriental ini jauh
lebih baik agar segala sesuatunya lebih sederhana dan tidak repot
dalam perawatannya.
____________________________________
1. Apa ciri2 arsitektur dan desain khas oriental?
Arsitektur khas Oriental, yang notabene berasal dari dataran Cina,
memang memiliki akar budaya yang sangat tua dan dilestarikan dengan
baik selama beribu-rubu tahun. Tak heran bila para keturunan Tionghoa
bila berada di daerah baru juga selalu membawa budaya mereka yang
mengakar kuat. Demikian pula dengan arsitektur khas oriental. Arsitektur
ini pada dasarnya adalah arsitektur tradisional berornamen/ berhias.
Sama seperti kebudayaan Eropa yang memiliki ornamen atau hiasan
khas arsitektur mereka, arsitektur khas oriental juga memiliki kekhasan
bentuk-bentuk ornamentasi, seperti hiasan pada dinding, pintu dan
jendela yang didasarkan pada mitos dan kepercayaan bangsa Tionghoa.
Ornamen yang ada beragam dari ornamen geometris, motif tanaman dan
binatang. Arsitektur Tionghoa tradisional sangat dipengaruhi oleh
kepercayaan mereka, seperti patung dewa-dewa, naga. Ciri arsitektur
lainnya seperti penggunaan Feng Shui untuk arsitektur cukup memberikan
banyak batasan sekaligus kreativitas dalam penataan ruang, perabot
dan aksesori rumah lainnya. Karakter bangsa Tionghoa yang juga cukup
menghargai dunia material terlihat pada penggunaan hiasan yang sangat
rumit, indah, serta bernilai seni tinggi, karena menunjukkan kekayaan
secara material dianggap menambah martabat bagi sebagian orang Tionghoa
tradisional. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Jawa,
dimana masing-masing bagian dari bangunan tradisional khas oriental
selalu memiliki makna, dari atap hingga ke pondasinya.
2. Bagaimana modifikasinya ke dalam rumah masyarakat Indonesia?
Secara umum, sebagai bangsa besar yang banyak tersebar di berbagai
negara, mereka yang berasal dari dataran Cina ataupun para keturunannya
masih memegang teguh budayanya, namun sekaligus beradaptasi dengan
budaya baru di tanah baru. Seperti terjadi di Indonesia, masih banyak
unsur-unsur budaya cina yang masih bisa ditemukan dalam rumah-rumah
mereka dari suku Tionghoa, seperti misalnya gantungan, hiasan bergambar
dewa, bagi yang masih memegang kepercayaan aslinya. Meskipun dalam
penggabungan dua arsitektur berbeda ini, biasanya karakter arsitektur
Tionghoa yang penuh warna dan hiasan menjadi berkurang, bahkan sebagian
besar atau keseluruhan hilang. Hanya yang tersisa adalah penataan
ruang, perabot yang masih menggunakan feng shui. Tak jarang elemen-elemen
tertentu, seperti atap khas Cina, warna-warna mencolok seperti merah,
biru dan kuning, atau penggunaan patung naga sebagai wujud kepercayaan
masih muncul dalam rumah masyarakat Indonesia keturunan.
Bahkan tak jarang, masyarakat pribumi juga menggunakan perhitungan
feng shui untuk menata ruang rumah. hal ini menunjukkan pengaruh
arsitektur oriental bagi masyarakat pribumi Indonesia.
3. Bagaimana warna dan bahan materialnya?
Dari segi warna, tampilan bangunan arsitektur oriental memang unik,
karena menggunakan warna-warna berani seperti merah, biru, hijau,
dan kuning. Masing-masing warna memiliki arti sendiri, seperti warna
merah yang menyimpan simbol kemakmuran. Warna-warna ini seringkali
menjadi warna dominan maupun aksen dari arsitektur baru yang modern,
misalnya menjadi aksen warna salah satu dinding dalam ruangan. Untuk
bahan material, dari arsitektur aslinya, banyak menggunakan material
alami seperti batuan, kayu, tanah. Material biasanya bila tidak
diberi cat/warna, akan ditampilkan secara jujur, seperti warna tanah
liat untuk genting, warna kayu untuk kolom kayu (tidak dicat), bahkan
warna material yang lama atau tua menjadi keunggulan visual dan
makna tersendiri.
4. Apa harus sesuai fengshui dalam menatanya?
Biasanya, akan lebih baik bila dalam menata ruang-ruang rumah gaya
oriental, dengan prinsip perhitungan feng shui, karena dengan demikian,
tidak hanya tampilan saja yang oriental, juga dalam penataan ruangnya.
Namun, seiring dengan modernisasi pola pikir masyarakat keturunan
Tionghoa saat ini, banyak yang tidak lagi menggunakan feng shui,
secara sebagian bahkan seluruh desain ruangannya.
5. Apa keunggulan arsitektur dan desain khas oriental ini?
Desain khas oriental, memiliki akar budaya yang kaya dan bermakna,
karena itu merupakan kebanggan tersendiri bila dapat diterapkan
dalam desain baru. Dalam hal ini akan menyenangkan sekaligus unik
untuk mengkombinasikan gaya oriental dengan unsur-unsur desain gaya
modern, karena menambah perbendaharaan arsitektur rumah tinggal.
Selain itu, karakter arsitektur yang berhias atau berornamen dapat
dengan mudah dipadukan dengan unsur etnis arsitektur tradisional
daerah Indonesia, misalnya arsitektur Jawa, karena secara umum,
karakter hiasannya agak mirip. Misalnya; kita dapat menyandingkan
pernak-pernik aksesori oriental dengan aksesori bergaya etnis Jawa.

6. Apa yang harus diperhatikan jika ingin mendesain rumah dengan
sentuhan khas oriental?
Pertama, tentukan sejauh mana sentuhan oriental hadir, apakah dengan
menggunakan prinsip feng shui, atau hanya secara tampilan mengadaptasi
beberapa unsur saja; seperti penggunaan warna, aksesori ruangan,
hiasan geometris khas Cina, hiasan figuratif tanaman atau binatang,
dan sebagainya.
Sesuaikan dengan gaya arsitektur yang digunakan, misalnya bila
menggunakan gaya modern, maka sentuhan oriental juga harus mengikutinya;
dalam arti tidak menggunakan ornamen/ hiasan yang terlalu banyak
karena justru akan menghilangkan kesan modern itu.
Top
of Page
|